KBK.News, JAKARTA – Sebuah kapal tanker liquefied natural gas (LNG) asal Rusia dilaporkan hanyut tanpa awak di perairan Laut Mediterania dan memicu kekhawatiran serius negara-negara Uni Eropa terhadap potensi bencana lingkungan.

Mengutip laporan Reuters (17/3/2026), yang dikutip dari CNBC Indonesia sembilan negara Eropa, termasuk Italia dan Prancis, mendesak Komisi Eropa untuk segera mengambil langkah darurat menyusul kondisi kapal yang dinilai membahayakan secara ekologis.

Kapal bernama Arctic Metagaz tersebut dilaporkan terombang-ambing di perairan antara Malta dan Italia dengan membawa sekitar 700 metrik ton bahan bakar serta muatan gas alam dalam jumlah besar.

Dalam surat resmi kepada Komisi Eropa, negara-negara tersebut menyebut situasi ini sebagai ancaman “segera dan serius” yang dapat memicu krisis lingkungan di kawasan strategis tersebut.

Selain ancaman ekologis, keberadaan kapal ini juga menghadirkan dilema bagi Eropa. Di satu sisi, langkah penyelamatan diperlukan untuk mencegah bencana, namun di sisi lain tindakan tersebut berpotensi bertentangan dengan sanksi ketat yang dijatuhkan Uni Eropa terhadap Rusia sejak konflik dengan Ukraina pada 2022.

Kapal ini sebelumnya diidentifikasi sebagai bagian dari “Shadow Fleet” atau armada bayangan Rusia, yang digunakan untuk menghindari sanksi ekonomi internasional.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengonfirmasi bahwa kapal tersebut saat ini tidak berawak.

Ia menyebut kapal membawa berbagai jenis bahan bakar dan gas alam, serta pihak Rusia masih menjalin komunikasi dengan pemilik kapal dan otoritas terkait.

Namun, Rusia menegaskan bahwa tanggung jawab penanganan kapal berada pada negara-negara pesisir sesuai hukum internasional.

“Keterlibatan lebih lanjut akan bergantung pada keadaan tertentu,” ujar Zakharova dalam pernyataan resminya.

Sementara itu, kondisi pasti kapal masih simpang siur.

Pihak Rusia sebelumnya menuding kapal tersebut diserang drone laut Ukraina yang diluncurkan dari wilayah Libya.

Namun, laporan otoritas maritim Libya justru menyebut kapal telah tenggelam setelah mengalami kebakaran hebat.

Hingga kini, pemerintah Ukraina belum memberikan pernyataan resmi terkait dugaan serangan tersebut.

Situasi ini menambah ketegangan geopolitik di kawasan sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan potensi bencana lingkungan besar di jalur maritim penting dunia.