Tanpa Takut Warga Sungai Lulut Antusias Nonton Bareng “PESTA BABI”
KBK.NEWS MARTAPURA – Tanpa takut dan intimidasi masyarakat di Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar antusias hadiri nonton barang filem “Pesta Babi” yang digelar Dewan Mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Banjarmasin.
Masyarakat di kawasan Pasar Sungai Lulut, khususnya para pemuda memenuhi lokasi nonton bareng filem dokumenter “Pesta Babi”. Filem yang menyorot tentang situasi masyarakat Papua tersebut ditonton oleh warga di Kelurahan Sungai Lulut dengan antusias tanpa mengalami intimidasi atau pembubaran oleh militer seperti yang terjadi di daerah lain.
Panitia kegiatan nonton bareng filem Pesta Babi, Muhammad Alwi Romadani dari Fakultas Syariah UIN Antasari Banjarmasin mengatakan, pihaknya senang nonton bareng yang digelar diikuti antusias masyarakat, khususnya para generasi muda.
“Alhamdulillah nonton bareng filem Pesta Babi yang kami gelar mendapat dukungan masyarakat dan mereka dengan antusias datang serta berjalan lancar tanpa ada tekanan ataupun intimidasi dari aparat termasuk dari militer,” jelasnya, Senin (18/5/2026) malam.
Filem dokumenter Pesta Babi, beber Alwi, menceritakan tentang keresahan masyarakat adat di Papua (seperti suku Malind, Yei, Awyu, dan Muyu) yang ruang hidupnya terdesak oleh deforestasi, militerisasi, dan konflik agraria demi kepentingan investasi berskala besar. Selain itu juga menyoroti sisi lain Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan—seperti proyek agrobisnis, perkebunan sawit, tebu untuk bioetanol, dan food estate.
“Kita ingin masyarakat tahu apa saja yang saat ini terjadi. Misalnya mengapa hutan -, hutan dibabat, misalnya masyarakat adat di Papua itu kehilangan pencarian akibat pembabatan hutan oleh proyek besar yang mengatasnamakan PSN. Apalagi mereka tidak dilibatkan atau tidak dimintai pendapat dan pandangannya sebelum proyek dilaksanakan,” tegasnya.
Menurutnya melalui filem Pesta Babi tersebut, maka masyarakat menjadi tahu persoalan yang terjadi terkait proyek besar yang bersinggungan dengan yang merugikan masyarakat serta tidak hanya di Papua saja.
” Persoalan yang terjadi di Papua seperti yang di dalam filem Pesta Babi itu juga terjadi di daerah lain termasuk di Kalimantan. Kita prihatin sekali, karena dari proyek besar seperti PSN itu kalau hanya menguntungkan segelintir orang dan merugikan masyarakat secara luas akibat rusaknya alam dan lingkungan,” pungkas Muhammad Alwi Romadani.
Film dokumenter investigasi berjudul “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” (dirilis awal 2026) merupakan karya kolaborasi dari sutradara dan jurnalis kawakan Dandhy Dwi Laksono (sutradara Dirty Vote dan pendiri WatchDoc) bersama Cypri Jehan Paju Dale. Film ini diproduksi melalui kolaborasi berbagai lembaga, termasuk Ekspedisi Indonesia Baru, WatchDoc, Jubi.id, dan Greenpeace.
