KBK.News, MARTAPURA – Banjir kembali melumpuhkan kehidupan warga di Jalan Kali Martapura, Desa Pembantanan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Genangan air setinggi paha orang dewasa menutup hampir seluruh akses permukiman dan memunculkan kembali trauma banjir besar 2021 yang hingga kini masih membekas di ingatan warga.

Dalam lima hari terakhir, ketinggian air terus meningkat. Aktivitas masyarakat praktis berhenti. Suasana Desa Pembantanan yang biasanya ramai kini berubah menjadi kawasan perairan. Halaman Masjid Al Ittihadul Khairat yang kerap dipenuhi anak-anak bermain, kini justru menjadi jalur lalu lintas perahu kecil.

Masjid berkubah biru itu dikepung air dari segala sisi. Tiang-tiang serambi tenggelam, lantai ruang utama tergenang, dan kondisi tersebut memaksa pelaksanaan salat Jumat pada Jumat (2/1/2026) ditiadakan. Jamaah diarahkan beribadah ke masjid lain yang masih bisa diakses.

Sani, salah seorang warga setempat, menyebut kondisi banjir kali ini sebagai yang terparah sejak peristiwa besar tahun 2021.

“Ini yang paling parah setelah 2021. Kami khawatir kejadian itu terulang,” ujarnya kepada KBK.News.

Agar masjid tetap bisa difungsikan, warga berinisiatif menyusun papan kayu menjadi apar-apar sederhana. Upaya itu hanya memungkinkan masjid dipakai oleh tiga hingga empat orang untuk salat Magrib.

BACA JUGA :  Alhamdulillah Jalan Nasional Di KM 55 Astambul Bisa Dilintasi

“Yang penting masjid tetap hidup dan tetap disalati setiap hari,” kata Sani.

Di rumahnya sendiri, Sani memilih bertahan. Ia membangun apar-apar di dalam rumah agar tetap bisa beraktivitas di tengah banjir.

“Papan beli sekitar satu setengah juta rupiah,” tuturnya.

Trauma banjir 2021 yang kala itu melumpuhkan pendidikan, ekonomi, dan ibadah warga, kini kembali menghantui. Pola kenaikan air yang dinilai mirip membuat kekhawatiran semakin besar.

Hal senada disampaikan Rasyad, warga lainnya. “Ini juga paling parah setelah 2021,” katanya.

Namun berbeda dengan Sani, Rasyad memilih mengungsi demi keselamatan keluarga. Ia membawa istri dan anak-anaknya ke sekolah terdekat yang memiliki bangunan bertingkat.

“Saya mengungsi ke sekolah karena lantai duanya aman,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, warga mengaku belum menerima bantuan maupun kunjungan dari pejabat pemerintah daerah. Mereka berharap ada langkah cepat dan nyata untuk menangani persoalan banjir yang dari tahun ke tahun semakin memburuk.

“Kami butuh perhatian serius. Jangan sampai kejadian lima tahun lalu terulang,” ungkap salah seorang warga. (Masruni)