Waduh, Helikopter BNPB di Kalsel Ambil Air di Kolam Ikan Milik Warga! Pemilik Kolam Dirugikan
KBK.NEWS, MARTAPURA – Keluhan disampaikan warga Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, terkait pengambilan air dari kolam ikan milik warga yang dilakukan helikopter Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pemilik kolam, H Ahmad Jailani, mengaku keberatan lantaran air yang selama ini dipersiapkan untuk mempertahankan kondisi kolam justru diambil dalam jumlah besar. Menurutnya, pengambilan air tersebut terjadi pada Kamis (27/8/2026) sekitar pukul 12.00 WITA.
Ahmad Jailani mengatakan, helikopter BNPB setidaknya melakukan pengambilan air sebanyak 14 kali dari kolam miliknya.
“Kami tadi sekitar jam 12-an siang melihat helikopter mengambil air dari kolam. Kurang lebih sampai 14 kali. Pertama kali diambil sudah kami larang dan kami beri isyarat, tetapi tetap dilakukan,” ujar Ahmad Jailani.
Ia menjelaskan, kolam tersebut merupakan kolam pemancingan yang sudah dikelolanya sejak sekitar tahun 2010. Untuk menjaga ketersediaan ikan, pihaknya bahkan harus mendatangkan air menggunakan kendaraan secara bertahap karena sumber air di lokasi mulai mengering.
“Kami ini melangsir air untuk mempertahankan ikan. Kemarin baru saja kami mengisi kolam. Hampir 100 kali bolak-balik, biaya satu kali langsir kurang lebih Rp600 ribu,” jelasnya.
Menurut Ahmad, kolam tersebut memiliki luas sekitar 30 borongan dan diisi sekitar 2 ton ikan untuk menunjang usaha pemancingan.
“Ini kolam pemancingan. Ikan yang kami pelihara untuk orang memancing. Makanya kami isi air supaya pengunjung bisa datang dan usaha tetap berjalan,” katanya.
Ahmad menyebut kondisi ikan menjadi stres setelah air dalam kolam kembali berkurang akibat pengambilan menggunakan helikopter. Ia khawatir kondisi tersebut berdampak pada kelangsungan ikan dan usahanya.
Ia juga mempertanyakan adanya koordinasi sebelum pengambilan air dilakukan. Ahmad mengaku belum menerima pemberitahuan sebelumnya bahwa kolam tersebut akan digunakan sebagai sumber air untuk pemadaman karhutla.
“Belum ada pemberitahuan sebelumnya kalau mau mengambil air di sini. Kami tentu mendukung upaya pemadaman, tetapi seharusnya ada komunikasi dulu,” tegasnya.
Ahmad berharap ada pihak yang bertanggung jawab terhadap dampak maupun kerugian yang ditimbulkan, terlebih air tersebut didapatkan dengan biaya yang tidak sedikit.
“Harapan kami, siapa yang bertanggung jawab untuk mengganti kerugian kami. Air ini kami dapat dengan biaya sendiri, kami langsir supaya ikan bisa bertahan. Sekarang airnya habis lagi dan ikannya stres,” ungkapnya.
Di sisi lain, Ahmad menegaskan bahwa dirinya memahami kebutuhan air untuk penanganan karhutla. Namun, menurutnya, penggunaan sumber air milik warga tetap perlu dilakukan dengan komunikasi dan mempertimbangkan kondisi pemilik kolam.
“Kami paham untuk pemadaman karhutla. Kami juga ingin membantu. Tetapi kalau mengambil air dari kolam usaha warga, paling tidak ada komunikasi, sehingga sama-sama tidak dirugikan,” pungkasnya.
