BANJARBARU KBK.NEWS – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Selatan menegaskan bahwa fenomena kematian massal ikan budi daya di aliran Sungai Barito, Kabupaten Barito Kuala, tidak bisa hanya dituding sebagai dampak fenomena alam atau intrusi air semata.

​Direktur Eksekutif WALHI Kalsel menilai, penurunan kualitas air yang drastis merupakan dampak dari beban industri yang sudah melampaui daya tampung sungai. Berikut adalah poin-poin pernyataan WALHI Kalsel untuk dikutip:

1. Gagalnya Evaluasi Akar Masalah

​WALHI menilai penjelasan pemerintah yang hanya menyebut faktor alam (seperti banjir rob atau pH tinggi dari hulu) tidak menyelesaikan persoalan.

​”Menyalahkan faktor alam tanpa mengevaluasi izin usaha di sepanjang DAS Barito adalah langkah yang keliru. Pemerintah harus membongkar akar masalahnya: yaitu beban izin perkebunan sawit, pertambangan, dan industri yang masif dari hulu hingga hilir,” tegas Direktur WALHI Kalsel, Raden Rofiq.

2. Dampak Oksidasi Pirit dan Limbah Sawit

​Kematian ikan berkaitan erat dengan tingkat keasaman air yang ekstrem. WALHI menyoroti aktivitas perkebunan sawit di lahan gambut yang membangun kanal-kanal tanpa memperhatikan lapisan pirit.

​”Saat pirit teroksidasi, ia menghasilkan asam sulfat (H_2SO_4) yang meningkatkan keasaman air secara drastis dan melepaskan logam berat. Secara kasat mata, ini terlihat dari munculnya karat di sisi sungai dan endapan pada tanaman air seperti eceng gondok.”

3. Analogi “Lima Sendok Gula” dalam Gelas

​Untuk menjelaskan mengapa ikan mati saat air menyusut, WALHI memberikan ilustrasi sederhana mengenai konsentrasi polutan:

BACA JUGA :  Polda Kalsel Masih Buru Pelaku Pembunuhan Sengketa Lahan Tambang Batu Bara di Pengaron

​”Ibaratkan Sungai Barito adalah sebuah teko besar. Jika setiap industri menyumbang ‘satu sendok gula’ limbah, mungkin rasanya belum berbahaya saat air penuh. Namun, saat kemarau atau debit air di hulu menyusut, volume air tinggal segelas. Lima sendok gula tadi membuat air menjadi sangat pekat dan mematikan bagi biota sungai.”

4. Penyebab Ikan Mati: Krisis Oksigen (DO)

​Limbah dari pertambangan, stockpile batubara, dan sawit meningkatkan beban Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD).

​”Ikan membutuhkan oksigen terlarut (DO) minimal 4 – 5 mg/L. Akibat oksidasi logam berat dan limbah industri, oksigen di air terkuras habis untuk menetralisir polutan. Inilah yang menyebabkan ikan mengalami stres pernapasan hingga mati massal secara serentak.”

5. Desakan Evaluasi Izin

​WALHI Kalsel mendesak pemerintah agar tidak bersikap reaktif hanya saat ada kejadian, melainkan melakukan langkah preventif yang tegas.

​”Pemerintah harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh izin di Sub DAS Barito. Penanganan tidak boleh parsial. Tanpa penghentian sumber pencemaran di hulu, bencana ekologis ini akan terus berulang dan semakin memburuk bagi masyarakat hilir.”

Kontak Media/Informasi Lebih Lanjut:

Dapat diisi dengan nama juru bicara atau tautan resmi WALHI Kalsel.