KBK.News, BANJARBARU– Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P., memberikan apresiasi tinggi terhadap inovasi cairan pemadam berbasis Methyl Ester Sulfonate (MES) temuan Bidlabfor Polda Kalsel untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) gambut.

Apresiasi tersebut disampaikan Wamenko saat menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Lanjutan Penanganan Bencana Karhutla Provinsi Kalsel Tahun 2026 yang dipimpin Kapolda Kalsel Irjen Pol Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, S.I.K., S.H., M.H., di Auditorium Polda Kalsel, Sabtu (5/9/2026) siang.

Wamenko menilai inovasi tersebut merupakan karya monumental dalam penanganan lahan gambut dan mendorong agar segera didaftarkan hak patennya.

Pemprov Kalsel juga menyiapkan langkah pendamping berupa teknik irigasi rewetting dan perendaman lahan secara selektif.

“Dikombinasikan dengan pemantauan drone thermal, cairan MES ini terbukti efektif memutus rantai oksigen, menurunkan suhu tanah gambut secara drastis dengan efek undercooling, serta menghemat penggunaan air secara signifikan,” ungkap Kapolda dalam paparannya di hadapan Wamenko.

Inovasi ini menjadi jawaban atas tantangan karhutla yang semakin nyata. Berdasarkan pemantauan BMKG, fenomena El Nino diproyeksikan berlangsung hingga akhir tahun. Suhu Samudera Hindia bagian timur yang dingin membuat pembentukan uap air minim, sehingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau teknologi hujan buatan hampir tidak memungkinkan dilakukan dalam waktu dekat.

Ancaman semakin serius karena kebakaran telah melanda Kawasan Hidrologis Gambut (KHG) seluas kurang lebih 160.000 hektare dengan kedalaman 0,5 hingga 3 meter yang mengalami degradasi serius.

Kondisi ini memicu kebakaran subsurface (bawah tanah) yang amat sulit dipadamkan dan menyerap biaya operasional hingga Rp600 juta per hari hanya untuk helikopter water bombing.

BACA JUGA :  Ketua Kadin Kalsel Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan

Kebakaran yang 99 persen dipicu faktor manusia ini bahkan telah berdampak pada krisis air bersih di Banjarbaru, Banjarmasin, dan Tanah Laut, serta mengancam ketahanan pangan daerah.

Rakor lanjutan ini sendiri dihadiri langsung oleh Sekda Provinsi Kalsel, Wakapolda Kalsel, Pejabat Utama Polda Kalsel, Kasrem 101/Antasari, Kapolres Banjarbaru, Kepala BPBD Kalsel, Kadisbunnak Kalsel, Kadishut Kalsel, serta Kadinsos Kalsel. Sementara para Kapolres jajaran, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan Penyuluh Pertanian se-Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar hadir secara virtual.

Wamenko Pangan RI turut menyampaikan apresiasi mendalam atas kerja keras TNI, Polri, BPBD, Pemda, dan relawan di garis depan.

Sementara itu, Sekda Prov Kalsel menegaskan komitmen penganggaran daerah melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk mendukung penuh operasional serta sarana relawan di lapangan.

Mengingat cuaca tidak memungkinkan untuk hujan buatan, Wamenko dan Kapolda menginstruksikan penguatan langkah persuasif serta sosialisasi masif hingga ke tingkat tapak (RT/RW, Lurah, Kepala Desa, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas) guna mengedukasi masyarakat agar tidak ada lagi pembersihan lahan dengan cara dibakar.

Terkait penegakan hukum, Kapolda Kalsel Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan mengungkapkan penindakan tegas terus berjalan.

Hingga saat ini Polri telah menangani 7 Laporan Polisi (LP) dengan tersangka perorangan yang telah naik ke tahap penyidikan, serta tengah merampungkan berkas untuk menaikkan status 1 kasus korporasi ke tahap penyidikan.

Melalui konsolidasi rakor ini, seluruh unsur Forkopimda Kalsel berkomitmen memperkuat langkah pencegahan dari tingkat desa hingga penindakan hukum tegas demi menghentikan bencana karhutla dan memulihkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat.