KBK.NEWS, MEMPAWAH — Pemerintah Jepang mengerahkan tiga helikopter angkut berat jenis CH-47 Chinook untuk mendukung operasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar). Ketiga armada udara tersebut bertugas menjalankan operasi pengeboman air (water bombing) guna memadamkan titik-titik api yang tersebar di wilayah tersebut.

​Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, meninjau langsung kapal perang Pasukan Beladiri Maritim Jepang (JMSDF) JS Kunisaki yang membawa ketiga helikopter tersebut di perairan Mempawah, Kalimantan Barat, pada Selasa (15/9).

​Pengerahan helikopter berkapasitas besar ini merupakan bentuk bantuan dan dukungan konkret Pemerintah Jepang dalam penanganan karhutla di Kalbar. Operasi water bombing oleh armada helikopter Chinook ini telah dimulai dan dijadwalkan berlangsung hingga Sabtu (19/9).

​Koordinasi Intensif dan Misi Kemanusiaan

​Selama kunjungan di atas JS Kunisaki, Menhan Sjafrie menggelar pertemuan dengan jajaran pimpinan Pasukan Beladiri Jepang. Agenda tersebut membahas perkembangan operasi pemadaman di lapangan serta kesiapan personel militer Jepang yang diterjunkan dalam misi bantuan humaniter ini.

​Komunikasi strategis antar kedua negara semakin diperkuat melalui sambungan telepon antara Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi. Dalam pembicaraan tersebut, Menhan Koizumi memberikan arahan langsung kepada para personel Jepang yang terlibat dalam misi penanganan bencana ini.

“Sebagai Menteri Pertahanan, saya menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Menhan Jepang Shinjiro Koizumi atas respon cepat dalam menyediakan helikopter CH-47 yang dilengkapi kemampuan pemadaman kebakaran,” ujar Sjafrie.

​Peningkatan Kerja Sama Pertahanan RI–Jepang

​Untuk memastikan kelancaran teknis di lapangan, tiga perwira keselamatan (safety officers) yang masing-masing berasal dari TNI Angkatan Darat (TNI AD), TNI Angkatan Laut (TNI AL), dan TNI Angkatan Udara (TNI AU) turut disiagakan. Para perwira ini bertugas mengawal koordinasi yang efektif antara unsur militer Indonesia dan Pasukan Beladiri Jepang selama operasi berlangsung.

BACA JUGA :  Karhutla Terus Mengancam, Kodim 1006/Banjar Dorong Sumur Bor di Tiap Kelurahan

​Menurut Menhan Sjafrie, dukungan ini merupakan wujud nyata hubungan pertahanan bilateral antara Indonesia dan Jepang, termasuk implementasi Perjanjian Kerja Sama Pertahanan (Defence Cooperation Agreement / DCA).

“Kerja sama ini berlandaskan prinsip saling menghormati dan saling menguntungkan. Kita tidak hanya membangun kolaborasi di bidang pertahanan, tetapi juga memperkuat kapasitas bersama untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.