Marak Kejadian Begal Payudara di Martapura, Anggota DPR RI HM Rofiqi : Ini Bukan Masalah Sepele
KBK.News, MARTAPURA – Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Dapil Kalsel 1 H Muhammad Rofiqi menyoroti maraknya dugaan aksi pelecehan seksual berupa begal payudara yang belakangan meresahkan masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya di Martapura, Kabupaten Banjar, Rabu (17/6/2026).
Menurut Rofiqi, aksi pelecehan yang terjadi di ruang publik tidak bisa dianggap sebagai persoalan sepele karena berdampak serius terhadap kondisi psikologis korban. Ia menilai perbuatan tersebut merupakan tindakan amoral yang harus segera ditangani secara serius oleh seluruh pihak, terutama aparat penegak hukum.
“Ini tentu cukup membuat resah. Tindakan amoral seperti ini harus segera kita tangani bersama-sama. Aparat penegak hukum harus bertindak tegas, tetapi tetap terukur dalam menangani kasus-kasus seperti ini,” ujar Rofiqi.
Politisi Gerindra itu mengatakan, selain penegakan hukum, upaya pencegahan juga harus diperkuat melalui peningkatan fasilitas keamanan di sejumlah titik yang dinilai rawan. Salah satunya dengan memaksimalkan penerangan jalan umum (PJU) serta pemasangan kamera pengawas atau CCTV.
Menurutnya, masih banyak kawasan yang memiliki penerangan minim sehingga berpotensi dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan aksi kejahatan maupun pelecehan terhadap perempuan.
“Di beberapa tempat memang penerangan jalannya belum maksimal. Karena sekarang sudah era teknologi, kita harus mulai memasang CCTV di titik-titik rawan agar bisa membantu pengawasan dan mempermudah pengungkapan pelaku,” katanya.
Rofiqi juga meminta aparat tidak ragu memberikan sanksi tegas kepada pelaku apabila berhasil diamankan. Langkah tersebut dinilai penting untuk memberikan efek jera sekaligus mencegah terulangnya kejadian serupa di kemudian hari.
“Kalau pelakunya ditemukan, saya kira harus diberikan tindakan tegas. Kemungkinan pelakunya tidak banyak, bisa jadi orang yang sama yang berulang kali melakukan tindakan tersebut,” tegasnya.
Tak hanya itu, Rofiqi turut mendorong lembaga yang memiliki tugas perlindungan perempuan dan anak agar lebih proaktif dalam memberikan pendampingan kepada korban. Ia menilai banyak korban pelecehan yang memilih diam karena trauma, rasa takut, atau enggan melapor.
Karena itu, ia meminta pendekatan jemput bola dilakukan agar korban mendapatkan perlindungan dan pendampingan yang layak, baik secara hukum maupun psikologis.
“Kita punya lembaga perlindungan perempuan dan anak. Mereka harus aktif, tidak hanya menunggu laporan masuk, tetapi juga melakukan langkah-langkah jemput bola untuk membantu korban,” ujarnya.
Maraknya laporan dugaan begal payudara dalam beberapa waktu terakhir telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Kabupaten Banjar. Warga berharap aparat penegak hukum dapat segera mengungkap dan menangkap pelaku agar rasa aman di ruang publik kembali terjaga.
