Ribuan Pohon Durian dan Langsat Mati Dihantam Kemarau, Karang Intan Terancam Kehilangan Hasil Panen
KBK.NEWS, MARTAPURA – Kemarau panjang yang berlangsung sekitar lima bulan berdampak serius terhadap sektor perkebunan buah lokal di Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Ribuan pohon durian dan langsat dilaporkan mati akibat kekeringan yang diperparah cuaca panas ekstrem, Senin (19/10/2026).
Tokoh masyarakat Kecamatan Karang Intan, Warhamni, mengungkapkan, dampak kemarau dirasakan sejumlah desa yang selama ini dikenal sebagai sentra penghasil buah lokal, terutama durian.
Beberapa wilayah yang terdampak di antaranya Desa Sungai Landas, Sungai Alang, Sungai Asam, Abirau, Pulau Nyiru, Maliu, Bi’ih, hingga Mandikapau.
Menurut Warhamni, kekeringan menyebabkan banyak pohon durian, langsat, duku, serta tanaman pisang mengalami kerusakan. Sebagian pohon kehilangan daun, mengering, bahkan mati sehingga dikhawatirkan memengaruhi produksi buah pada musim panen mendatang.

“Ribuan pohon durian dan langsat banyak yang mati akibat panas El Nino dan kemarau panjang. Dampaknya bukan hanya terhadap pohon durian, tetapi juga langsat, duku, serta tanaman pisang milik masyarakat,” ungkap Warhamni.
Ia menjelaskan, meskipun sebagian pohon durian mulai memasuki masa panen, hasilnya tidak maksimal. Kondisi tersebut terlihat dari ukuran buah yang lebih kecil dibandingkan musim penghujan.
Minimnya curah hujan sejak masa pembungaan hingga menjelang panen diduga memengaruhi pertumbuhan dan kualitas buah. Selain ukuran yang mengecil, kondisi tersebut juga dikhawatirkan berdampak terhadap isi serta cita rasa durian lokal.
“Sekarang sebagian durian sudah mulai panen, tetapi banyak pohon yang daunnya luruh. Buahnya juga cenderung lebih kecil dan isinya tidak maksimal karena sejak berbunga sampai sekarang hampir tidak ada hujan,” jelasnya.
Padahal, Kecamatan Karang Intan selama ini dikenal sebagai salah satu sentra utama durian lokal di Kabupaten Banjar, yang menjadi daerah penghasil buah-buahan unggulan di Kalimantan Selatan.
Warhamni mengingatkan, jika kondisi kekeringan terus berlanjut dan banyak pohon produktif mati, dampaknya tidak hanya dirasakan petani pada musim panen tahun ini, tetapi juga berpotensi menurunkan produksi buah lokal dalam beberapa tahun ke depan.
Ia mengenang, Desa Bi’ih pernah mengharumkan nama Kalimantan Selatan dalam Festival Durian tingkat nasional pada era 1980-an. Karena itu, kerusakan pohon akibat kemarau panjang menjadi perhatian serius bagi keberlangsungan perkebunan durian lokal di wilayah tersebut.
Meski demikian, Warhamni tetap bersyukur karena masyarakat masih bisa menikmati sebagian hasil panen durian pada tahun ini, kendati kualitas dan jumlahnya diperkirakan tidak sebaik musim sebelumnya.
Kemarau Juga Picu Krisis Air Bersih
Selain berdampak terhadap perkebunan, kemarau panjang turut menyulitkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
Warhamni menyebutkan, sebagian warga di sejumlah desa selama ini mengandalkan sungai-sungai kecil dan sumur untuk memenuhi kebutuhan air. Namun, akibat kemarau berkepanjangan, banyak aliran sungai mulai mengering, sedangkan debit air sumur terus berkurang meskipun telah diperdalam.
Akibatnya, sejumlah dusun menghadapi kendala mendapatkan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.
“Kami sangat prihatin dengan kondisi masyarakat. Kalau kekurangan air, warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kami berharap ada pihak-pihak yang bisa membantu masyarakat di desa dan dusun yang mengalami kekurangan air bersih,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah maupun pihak swasta dapat memberikan perhatian melalui bantuan air bersih, terutama bagi warga yang terdampak paling parah.
Menurutnya, persoalan air bersih perlu menjadi perhatian bersama karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat, terlebih ketika kemarau berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Tiwadak dan Cempedak Justru Berbuah Lebat
Di tengah kondisi tersebut, Warhamni menyebut tidak semua tanaman buah mengalami dampak yang sama. Tanaman tiwadak dan cempedak justru menunjukkan perkembangan yang baik selama musim panas.
Bahkan, menurut pengamatannya, buah tiwadak yang menggantung di pohon tahun ini terlihat lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya di Kecamatan Karang Intan dan sekitarnya.
“Kalau tiwadak dan cempedak, justru dengan kondisi panas seperti ini perkembangannya bagus. Buahnya banyak, berbeda dengan durian yang terlihat kurang tahan terhadap kemarau panjang,” tuturnya.
Warhamni berharap kondisi ini menjadi perhatian bersama agar keberlangsungan perkebunan buah lokal dan kebutuhan air bersih masyarakat Kecamatan Karang Intan tetap terjaga.
Ia juga berharap ada langkah nyata untuk membantu warga menghadapi dampak kekeringan, sekaligus menjaga pohon-pohon buah lokal yang selama ini menjadi bagian penting dari potensi ekonomi masyarakat setempat.
