KBK.News, MARTAPURA – Kondisi Sungai Riam Kanan dan Sungai Martapura yang terus mengalami penyusutan debit air memicu keprihatinan berbagai pihak. Sekretaris Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Banjar, Warhamni, mendesak pemerintah segera mengambil langkah cepat dengan menambah aliran air ke sungai untuk mencegah kerugian yang semakin meluas, Senin (13/7/2026).

Menurut Warhamni, laporan masyarakat yang diterimanya sejak Minggu malam menyebutkan debit air kembali mengalami penurunan drastis. Bahkan, ketinggian air disebut turun sekitar 50 sentimeter hanya dalam satu malam.

Warhamni.

“Kondisi debit air saat ini diperkirakan tinggal sekitar 25 hingga 30 persen dari kondisi normal. Dampaknya sangat besar, ratusan ribu ekor ikan kembali mati dan kerugian masyarakat terus bertambah,” ujarnya.

Ia mengatakan, persoalan tersebut tidak hanya berdampak terhadap para pembudidaya ikan, tetapi juga masyarakat yang masih memanfaatkan Sungai Martapura dan Sungai Riam Kanan untuk kebutuhan sehari-hari.

Warhamni mengaku prihatin melihat kondisi yang terjadi. Baginya, ikan juga merupakan makhluk hidup yang berhak memperoleh lingkungan yang layak untuk bertahan hidup.

“Saya sangat prihatin dengan kondisi ini. Ikan adalah makhluk hidup yang juga berhak mendapatkan air yang layak. Di satu sisi kita mendengar keluhan para petani, namun di sisi lain ribuan bahkan jutaan ikan terancam mati karena kekurangan air. Harus ada solusi yang memperhatikan semua pihak,” katanya.

BACA JUGA :  Lestarikan Budaya Banjar, Organisasi Laung Kuning Hadir Ditengah Era Digital

Ia juga mempertanyakan kondisi saluran irigasi Riam Kanan yang justru terlihat penuh, sementara aliran air menuju Sungai Riam Kanan dan Sungai Martapura terus berkurang.

“Yang menjadi pertanyaan masyarakat, kenapa saluran irigasi terlihat penuh bahkan hampir melimpah, tetapi debit air di Sungai Riam Kanan dan Sungai Martapura justru terus menurun. Kondisi ini tentu membingungkan masyarakat,” ucapnya.

Warhamni meminta Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Pemerintah Kabupaten Banjar, serta instansi terkait segera mengevaluasi pengaturan distribusi air dan menambah debit air yang dialirkan ke sungai.

Menurutnya, jika kondisi ini terus berlanjut, dampak kematian ikan diperkirakan akan semakin meluas ke berbagai wilayah.

Sejumlah desa yang sebelumnya telah terdampak di antaranya Sungai Arfat, Mali-Mali, Lok Tangga, Karang Intan, Pasar Lama, dan Lihung. Kini, laporan serupa juga mulai muncul dari wilayah Panyambaran, Sungai Landas, Sungai Alang, Sungai Asam hingga kawasan di bawah Bendung Irigasi Riam Kanan.

“Kalau tidak segera ditangani, bukan hanya ratusan ribu, tetapi bisa jutaan ekor ikan yang mati. Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan agar kondisi ini tidak semakin parah,” tutup Warhamni.