Demo PLN, Pelintas Jalan Ikut Curhat Dampak Mati Lampu Bergilir
KBK.News, BANJARMASIN – Aksi unjuk rasa Aliansi Pemuda Kota Banjarmasin di depan Kantor PT PLN (Persero) UP3 Banjarmasin, Selasa (28/7/2026), tak hanya diwarnai orasi para peserta aksi.
Sejumlah pelintas yang melintas di depan lokasi aksi bahkan ikut berhenti dan menyampaikan keluhan akibat seringnya pemadaman listrik bergilir di Kota Banjarmasin.
Massa aksi mendesak PT PLN memberikan penjelasan sekaligus bertanggung jawab atas pemadaman listrik yang dinilai semakin sering terjadi dan telah merugikan masyarakat dari berbagai kalangan.
Salah satu warga yang spontan bergabung menyampaikan keluhan adalah pelaku Ari Sandrarini.
Ia mengaku bukan bagian dari peserta aksi, melainkan hanya melintas di depan Kantor PLN.
Namun karena merasa mengalami persoalan yang sama, Ari memutuskan berhenti dan ikut menyuarakan keresahannya.
“Saya enggak ikut dari awal. Saya cuma lewat. Tapi apa yang mereka sampaikan sama dengan yang saya rasakan sebagai masyarakat,” ujarnya.
Menurut Ari, pemadaman listrik bergilir telah berdampak langsung terhadap usaha katering yang dijalaninya.
Ia mengaku hampir gagal memenuhi pesanan makanan karena peralatan listrik tidak dapat digunakan saat proses memasak.
“Kemarin saya mau masakkan orang untuk selamatan. Blender enggak bisa nyala. Mau ke pasar giling bumbu juga mati lampu. Akhirnya saya minta tolong sama orangnya, menunya diganti saja yang tidak banyak pakai bumbu karena mati lampu,” katanya.
Ia menilai kerugian yang dialami bukan hanya soal materi, tetapi juga waktu, tenaga, hingga kepercayaan pelanggan.
Selain pelaku UMKM, keluhan juga datang dari Advokat Bujino Adriannus Salan SH MH, warga Jalan Jahri Saleh, Banjarmasin.
Menurutnya, kawasan tempat tinggalnya hampir setiap hari mengalami pemadaman listrik bergilir.
Akibatnya, sejumlah ikan hias berukuran besar peliharaannya mati karena aerator tidak berfungsi saat listrik padam.
Tak hanya itu, aktivitasnya sebagai advokat juga terganggu karena penyusunan berkas perkara dan dokumen klien yang dikerjakan menggunakan komputer tidak dapat diselesaikan ketika listrik padam.
“Kami membayar listrik tepat waktu, tetapi pelayanan justru sering mengecewakan. Bukan hanya usaha masyarakat yang dirugikan, pekerjaan profesional pun ikut terganggu,” keluh advokat senior ini .
Ia mengaku tengah mempertimbangkan langkah hukum terhadap PLN apabila kondisi tersebut terus berulang.
Sementara itu, dalam aksi tersebut massa juga meminta pimpinan PT PLN UP3 Banjarmasin menemui para demonstran untuk memberikan penjelasan.
Namun hingga aksi berakhir, pimpinan tidak hadir dan hanya mengutus perwakilan untuk berdialog dengan peserta aksi.
Aliansi Pemuda Kota Banjarmasin berharap PLN segera memberikan solusi konkret agar pemadaman listrik tidak terus berulang dan merugikan masyarakat.
