Kisah Anisa Putri, Lulusan Tercepat S2 UGM dengan Masa Studi 1 Tahun 26 Hari dan IPK 3,99
YOGYAKARTA, KBK.NEWS — Anisa Putri Aviana mencatatkan prestasi gemilang sebagai wisudawan dengan masa studi tersingkat pada periode wisuda pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia berhasil merampungkan studi Program Magister Sains Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM hanya dalam waktu 1 tahun 26 hari dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3,99.
Capaian tersebut jauh lebih singkat dibanding rata-rata masa studi lulusan program magister pada periode yang sama, yaitu 2 tahun 2 bulan. Kendati mencatatkan rekor sebagai lulusan tercepat, dara yang akrab disapa Avi ini mengaku kelulusan kilat bukanlah target utamanya, melainkan buah dari kedisiplinan, konsistensi, dan komitmen tinggi selama berkuliah.
”Sebelum memutuskan kuliah, saya sudah memahami persyaratan kelulusan seperti kewajiban mata kuliah, pelaksanaan penelitian, hingga ketentuan publikasi jurnal melalui buku panduan akademik. Dari situ, saya menentukan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan,” ujar Avi, Jumat (6/11).
Strategi Studi dan Riset Sejak Semester Awal
Langkah taktis langsung diambil Avi sejak semester pertama. Ia aktif mencari dan mendapatkan dosen pembimbing yang sejalan dengan minat risetnya di bidang neuroscience.
Dalam tesisnya, Avi meneliti potensi tanaman herbal kemangi sebagai agen neuroprotektif (pelindung saraf) untuk pencegahan penyakit degeneratif seperti Parkinson. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap, yakni in silico (komputasi) dan in vitro menggunakan sel PC12 yang diinduksi rotenon.
”Kemangi memiliki kandungan bioaktif yang dapat melindungi sel saraf dari Parkinson, tetapi masih diperlukan penelitian lebih lanjut,” jelasnya.
Kelancaran penelitian tersebut, lanjut Avi, tidak lepas dari bimbingan intensif dari Prof. drh. Dwi Liliek Kusindarta, M.P., Ph.D., dan Dr. med. vet. drh. Hevi Wihadmadyatami, M.Sc., yang dikenal suportif dan komunikatif. Topik riset yang sesuai dengan passion juga membuatnya menikmati setiap proses pengerjaan. “Kebiasaan membaca literatur secara konsisten sangat membantu saya dalam proses penulisan maupun penelitian,” tambahnya.
Trik Melawan Prokrastinasi
Avi mengaku tantangan terbesar dalam menyelesaikan studinya bukan bersumber dari materi akademik, melainkan diri sendiri—yakni melawan rasa malas dan kebiasaan menunda pekerjaan.
Untuk mengatasinya, ia menerapkan strategi segitiga terbalik, yakni memecah target besar ke dalam tugas-tugas skala kecil agar lebih mudah dikelola. Disiplin tersebut ditopang oleh dukungan penuh dari keluarga tercinta. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, keberhasilan ini sekaligus mengantarkannya menjadi dokter hewan pertama di keluarganya.
Pesan dan Rencana Masa Depan
Bagi mahasiswa yang tengah berjuang merampungkan tesis, Avi berpesan agar tidak membandingkan diri dengan pencapaian orang lain karena setiap individu memiliki lini masa masing-masing. Ia merangkum kunci suksesnya melalui prinsip: “Start earlier, plan strategically, and be consistent.”
Ke depan, alumni S1 yang sempat berpengalaman menjadi asisten praktikum ini berencana meniti karier sebagai dosen dan bermimpi melanjutkan studi jenjang doktor (S3). “Ketertarikan menjadi dosen sudah ada sejak S1 karena saya merasakan kesenangan tersendiri saat bisa berbagi ilmu dengan orang lain,” pungkasnya.
Sumber : ugm.ac.id
