KBK News BANJARMASIN– Kalimantan Selatan dinilai masih memiliki fondasi ekonomi yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi Triwulan I 2026 yang mencapai 5,67 persen atau sedikit lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional sebesar 5,61 persen.

Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Prof. Dr. Ahmad Yunani, SE, M.Si, mengatakan capaian tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi daerah tetap bergerak positif meski dunia sedang menghadapi tekanan geopolitik dan menguatnya mata uang dolar Amerika Serikat.

Menurutnya, konsumsi rumah tangga, perdagangan, serta meningkatnya aktivitas masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah.

Selain itu, kekayaan sumber daya alam seperti batubara, kelapa sawit, karet, pertanian, dan perikanan masih menjadi tulang punggung ekonomi Kalimantan Selatan.

BACA JUGA :  Urai Permasalahan, Pansus PT Baramarta Hadirkan Pakar Hukum Administrasi Negara

Prof Ahmad Yunani juga menilai posisi strategis Kalsel sebagai pintu gerbang logistik Kalimantan dan kedekatannya dengan IKN memberikan peluang besar bagi masuknya investasi baru di sektor perdagangan, logistik, dan jasa.

Meski inflasi masih berada pada level yang terkendali, pemerintah daerah tetap diingatkan agar menjaga stabilitas harga pangan untuk mempertahankan daya beli masyarakat.

Ia mengakui pelemahan rupiah berdampak terhadap meningkatnya biaya impor berbagai kebutuhan industri.

Namun di sisi lain, perusahaan berbasis ekspor justru memperoleh keuntungan dari penerimaan dalam dolar AS.

Karena itu, Prof Ahmad Yunani mendorong percepatan hilirisasi industri, penguatan UMKM, ketahanan pangan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia agar ekonomi Kalsel semakin kuat menghadapi dinamika global.